Setiap kali saya menyalakan televisi
dan memilih program berita sebagai tontonan yang saya lihat. Ada satu berita
yang tidak pernah absen untuk diberitakan. Berita dengan tema yang sama tapi
dengan modus yang bermacam-macam. Berita ‘Pencabulan dibawah umur’. Hampir
setiap hari kejadian itu menghiasi layar televisi dan pelakunyapun bervariasi.
Mulai dari ayah sendiri, paman, kakek, tetangga, bahkan guru sendiri.
Banyak para petinggi negara dan para
pelaku pendidikan selalu berkoar-koar tentang pentingnya pendidikan untuk masa
depan diri sendiri dan masa depan bangsa. Tetapi pendidikan seperti apakah yang
dipentingkan?
Masih sangat hangat di ingatan saya
tentang kasus pencabulan seorang wakil kepala sekolah di jakarta
yang mencabuli muridnya sendiri dengan ancaman ‘tidak lulus sekolah’ kalau tidak mau memenuhi hasrat bejatnya, sekarang berganti pada pencabulan yang dilakukan oleh seorang kepala sekolah di Batam yang mencabuli 14 muridnya dengan modus ‘tes keperawanan’.
yang mencabuli muridnya sendiri dengan ancaman ‘tidak lulus sekolah’ kalau tidak mau memenuhi hasrat bejatnya, sekarang berganti pada pencabulan yang dilakukan oleh seorang kepala sekolah di Batam yang mencabuli 14 muridnya dengan modus ‘tes keperawanan’.
Masihkah kita percaya dengan
pendidikan yang dikoar-koarkan ‘sangat penting’ tersebut kalau pelaku pembentuk
pendidikan sendiri tidak bisa memberikan pendidikan yang seharusnya mendidik?
Lain di dalam dunia pendidikan, lain
pula di dalam dunia keluarga. Keluarga adalah tempat yang harusnya bisa membuat
nyaman Si Kecil dari segala bentuk pengaruh negatif yang bisa membentuk
karakter yang lebih buruk. Tetapi lagi-lagi pertanyaan yang hampir serupa harus
terlontar, ‘Apakah kita masih percaya dengan kenyamanan di dalam keluarga?’.
Kalau seharusnya ayah sebagai teladan yang bijak telah menodai buah hatinya
sendiri. Kakek sebagai sesepuh yang seharusnya terlihat berwibawa telah merusak
masa depan cucunya. Sedangkan paman sebagai pelindung yang tak peduli dengan
kehormatan keponakan sendiri serta tetangga yang seharusnya menjadi kerabat
yang lebih dekat dari saudara sendiri yang ternyata lebih tak menghiraukan
dengan arti sebuah kesucian telah merenggut kesehatan lahir batin Si Kecil.
Lantas, dimanakah kenyamanan itu berada?
Pernahkah terfikir oleh mereka jika
wajah dunia pendidikan terlihat begitu buruknya dengan tingkah para pelaku
pendidik yang telah dilakukannya itu membuat para murid dan orang tua tak lagi
mempercayai sebuah pendidikan? Pendidikan yang seharusnya membuat karakter
bangsa terlihat berwibawa dengan anak-anak bangsa yang berkualitas tetapi
ternyata malah membuat para murid dan orang tua ketakutan dan memilih untuk tak
menjadi seorang yang berpendidikan jika kehormatan diri dan masa depan yang
menjadi taruhannya. Akan menjadi apa negara ini jika penerus bangsa lebih
memilih tak menjadi seorang yang berpendidikan?
Dan teladan seperti apakah untuk
lingkungan keluarga esok jika para pelaku pemberi kenyamanan telah merenggut kesucian
yang tak berdosa itu? bisa terbayangkan jika setiap keluarga memberi contoh
bejat pada mereka yang tak berdosa dan akan melahirkan banyak sekali para
pendosa-pendosa di negara ini.
Lantas dimanakah kenyamanan Si Kecil?
Gresik, 16
April 2013
23:04
23:04
0 komentar :
Posting Komentar